Sabtu, 07 Januari 2012

MUKMIN YANG LEBIH KUAT DARI PADA MUKMIN YANG LEMAH


 BAB I
PENDAHULUAN
LATARBELANG MASALAH TENTANG MUKMIN YANG LEBIH KUAT DARI PADA MUKMIN YANG LEMAH
            karena banyak masalah tentang mukmin yang dan mukmin yang kaut saya disini membicara tentang yang siknipikan dalam tentang hal dengan kesolehan dan keburukan tentang masalah umat islam pada zaman sekarang, mukmin yang yang kuat disini menurut saya tebalnya iman dan mukmin yang lemah bukan lemah dari segi fisik atau yang lainnya. Karena sangat merusak pada zaman ini.
            Masalah sekarang tentang banyak zihat mengatas namakan islam, islam tidak suka kekerasaan tetapi islam tegas dalam menyikapi masalah yang tidak norma-norma agama sekarang banyak zihat dengan bom bunuh diri dalam islam tidak yang jihat untuk memberantas mukmin yang lemah.
            Masalah dalam tentang mukmin yang lebih kuat dari pada mukmin yang lemah adalah tentang beberapa tentang iman kita kepada Allah SWT agar kita dapat melakukan kewajiban sebagai mukmin yang baik menjauhi larangan dan menjalankan perintah yang dianjurkan Allah SWT dan perintah yang dianjurkan Oleh Nabi Muhammad saw.
            Untuk lebih jelas tentang mukmin yang lebih kuat dari pad mukmin yang lemah kita lihat halaman berikutnya.








BAB II
PEMBAHASAN
MUKMIN YANG KUAT LEBIH BAIK DARI PADA MUKMIN YANG LEMAH
حدثناأبو بكر بن أبي شيبة وابن ثمير قالا حدثنا عبد الله بن ادريس عن ربيعه بن عثمنان عن محمد بن يحي بن حبان عن الاعرج عن أبي هريرة فال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم المؤمن القوي خير وأحب الى الله من المومن الضعيف وفي كل خير احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولاتعجزوان أصابك شيء فلا تقل لو اني فعلت كان كذا وكذا ولكن قل قدر الله وماشاءفعل فان لوتفتح عمل الشيطان ( أخرجه مسلم فى كتاب القدم باب فى الامربالقوة وترك العجز والاستعانة بالله )
Artinya:
 …..Abdurahman ibn Shakbar (Abu Hurairah) Ra. Berkata: “Rasulullah SAW bersabda :”Mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah SWT dari pada Mukmin yang lemah, pada tiap-tiap itu ada kebaikan maka bergiat-giatlah terhadap apa yang ada yang bermanfaat bagi kamu dan memohon pertolongan dari Allah niscaya engkau tidak lemah, jika engkau ditimpa sesuatu janganlah berkat jika aku melakukannya tentu akan begini dan begitu, akan tetapi aku katakanlah ketentuan Allah, dan jika ia ingin maka dilakukannya, maka sesungguhnya jika engkau membuka pekerjaan setan (HR. Muslim dalam kitab al-Qadr Bab perintah untuk kuat dan meninggalkan kelemahan dan meminta tolong kepada Allah).[1]
AHKLAK YANG BAIK

AYAT-AYAT AL-QUR’AN
ôÙÏÿ÷z$#ur y7yn$uZy_ tûüÏZÏB÷sßJù=Ï9 ÇÑÑÈ

 Janganlah sekali-kali kamu medan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.) QS. Al-Ahijr: 88).
* (#þqããÍ$yur 4n<Î) ;otÏÿøótB `ÏiB öNà6În/§ >p¨Yy_ur $ygàÊótã ßNºuq»yJ¡¡9$# ÞÚöF{$#ur ôN£Ïãé& tûüÉ)­GßJù=Ï9 ÇÊÌÌÈ
tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZムÎû Ïä!#§Žœ£9$# Ïä!#§ŽœØ9$#ur tûüÏJÏà»x6ø9$#ur xáøtóø9$# tûüÏù$yèø9$#ur Ç`tã Ĩ$¨Y9$# 3 ª!$#ur =Ïtä šúüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÌÍÈ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS. Ali ‘ Imran:133-134).
ߊ$t7Ïãur Ç`»uH÷q§9$# šúïÏ%©!$# tbqà±ôJtƒ n?tã ÇÚöF{$# $ZRöqyd
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati .(QS. Al-Furqan: 63).
(#ätÂty_ur 7py¥ÍhŠy ×py¥ÍhŠy $ygè=÷WÏiB ( ô`yJsù $xÿtã yxn=ô¹r&ur ¼çnãô_r'sù n?tã «!$# 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä tûüÏJÎ=»©à9$# ÇÍÉÈ
 Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik Maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.[2]
Riwayat Muslim
Huraian mengenai hadith ini riwayat Imam Muslim:-
1.       Kekuatan seseorang Muslim itu diukur bukan sahaja dari segi fizikal (tubuh badan) tetapi juga dinilai daripada aspek kekuatan iman. Bahkan itulah yang paling penting.
2.         Orang yang sentiasa berwaspada terhadap nikmat kehidupan di dunia tidak akan mudah terjerumus dalam perangkap syaitan. Segala tindakan yang diambil mencerminkan ketaqwaannya kepada Allah dan dia sekali-kali tidak membiarkan kebaikan dan keburukan yang menimpanya sebagai suatu kegembiraan (kemenangan) dan kesedihan semata tetapi percaya bahawa semuanya itu mempunyai hikmah yang tersendiri daripada Allah untuk diambil pengajaran.
3.      Ucapan ‘kalau’ tidak harus diamalkan kerana ia seolah-olah menunjukkan bahawa kita tidak redha dengan apa yang telah berlaku. Sebaliknya kita hendaklah sentiasa berfikiran positif dan ingat bahawa segala yang baik itu datangnya daripada Allah dan yang buruk itu adalah daripada kelemahan diri kita sendiri. Oleh sebab itu Islam menyuruh umatnya agar bertawakkal (berserah) kepada Allah SWT dalam melakukan sesuatu usaha dan percaya bahawa setiap sesuatu itu tidak akan berlaku tanpa keizinan daripada-Nya jua.[3]
Pendapat saya tentang hadits mukmin yang kuat lebih baik dari pada mukmin yang kuat agar kita bisa menambahkan iman kita Allah SWT. Saya ibaratkan air, iman adalah sebagai kalau kita ada air kita bisa mati,kalau tidak mempunyai imam kita seperti orang tersesat dalam hutan yang tidak ada orangnya. Mukmin yang lemah bukan lemah fisiknya akan tetapi lemah dalam factor emosional tidak bisa memikirkan yang akan yang dilakukan sebagai mukmin yang cerdas.
عن أبي هريرة   قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " المؤمن القوي، خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف ، وفي كل خير احرص على ما ينفعك ، واستعن بالله ولا تعجز ، وإن أصابك شيء ، فلا تقل لو أني فعلت كان كذا وكذا ، ولكن قل قدر الله وما شاء فعل ، فإن لو تفتح عمل الشيطان " (رواه مسلم
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Apabila sesuatu menimpamu janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku berbuat demikian niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah dan terserah Allah apa yang dia inginkan maka tentu Dia kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ’seandainya’ itu akan membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim [2664] lihat Syarh Nawawi, jilid 8 hal. 260).
Hadits yang mulia ini menunjukkan beberapa hal:
Pertama:
Allah ta’ala memiliki sifat cinta kepada sesuatu. Kecintaan Allah kepada sesuatu bertingkat-tingkat, kecintaan-Nya kepada mukmin yang kuat lebih dalam daripada kecintaan-Nya kepada mukmin yang lemah.
Orang mukmin yang kuat adalah orang yang menyempurnakan dirinya dengan 4 hal;
[1] ilmu yang bermanfaat,
[2] beramal salih,
[3] saling mengajak kepada kebenaran, dan
[4] saling menasihati kepada kesabaran.
Adapun mukmin yang lemah adalah yang belum bisa menyempurnakan semua tingkatan ini.
Kedua:
Kebaikan pada diri orang-orang beriman itu bertingkat-tingkat. Mereka terdiri dari tiga golongan manusia.
Pertama - kaum As-Saabiqun ilal Khairat, orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan-kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang menunaikan amal yang wajib maupun yang sunnah serta meninggalkan perkara yang haram dan yang makruh.
Kedua - kaum Al-Muqtashidun atau pertengahan. Mereka itu adalah orang yang hanya mencukupkan diri dengan melakukan kewajiban dan meninggalkan keharaman.
Ketiga - Azh-Zhalimuna li anfusihim. Mereka adalah orang-orang yang mencampuri amal kebaikan mereka dengan amal-amal jelek.
Ketiga:
Perkara yang bermanfaat ada dua macam; perkara keagamaan dan perkara keduniaan.
Sebagaimana seorang hamba membutuhkan perkara agama maka ia juga membutuhkan perkara dunia. Kebahagiaan dirinya akan tercapai dengan senantiasa bersemangat untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat di dalam kedua perkara tersebut.
Perkara yang bermanfaat dalam urusan agama kuncinya ada 2; ilmu yang bermanfaat dan amal salih.
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membersihkan hati dan ruh sehingga dapat membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, yaitu ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam ilmu hadits, tafsir, dan fiqih serta ilmu-ilmu lain yang dapat membantunya seperti ilmu bahasa Arab dan lain sebagainya.
Adapun amal salih adalah amal yang memadukan antara niat yang ikhlas untuk Allah serta perbuatan yang selalu mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sedangkan perkara dunia yang bermanfaat bagi manusia adalah dengan bekerja mencari rezeki.
Pekerjaan yang paling utama bagi orang berbeda-beda tergantung pada individu dan keadaan mereka.
Batasan untuk itu adalah selama hal itu benar-benar bermanfaat baginya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu”
Keempat:
 melakukan hal-hal yang bermanfaat itu tidak sepantasnya manusia bersandar kepada kekuatan, kemampuan dan kecerdasannya semata. Namun, dia harus menggantungkan hatinya kepada Allah ta’ala dan meminta pertolongan-Nya dengan harapan Allah akan memudahkan urusannya.
Kelima:
Apabila seseorang menjumpai perkara yang tidak menyenangkan setelah dia berusaha sekuat tenaga, maka hendaknya dia merasa ridha dengan takdir Allah ta’ala. Tidak perlu berandai-andai, karena dalam kondisi semacam itu berandai-andai justru akan membuka celah bagi syaitan. Dengan sikap semacam inilah hati kita akan menjadi tenang dan tentram dalam menghadapi musibah yang menimpa.
Keenam:
Di dalam hadits yang mulia ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan antara keimanan kepada takdir dengan melakukan usaha yang bermanfaat.
Kedua pokok ini telah ditunjukkan oleh dalil Al-Kitab maupun As-Sunnah dalam banyak tempat. Agama seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan kedua hal itu.[4]
Mukmin yang Kuat Lebih Baik daripada Mukmin yang Lemah
Mukimin yang kuat di sini bukanlah yang dimaksudkan adalah mukmin yang kekar badannya, perkasa dan sehat. Semacam ini yang sering dipahami sebagian orang tatkala mendengar hadits ini.
Yang dimaksud dengan mukmin yang kuat di sini adalah mukmin yang kuat imannya. Bukan yang dimaksudkan dengan kuat di sini adalah mukmin yang kuat badannya. Karena kuatnya badan biasanya akan menimbulkan bahaya jika kekuatan tersebut digunakan dalam hal maksiat. Namun pada asalnya, kuat badan tidak mesti terpuji dan juga tidak mesti tercela. Jika kekuatan tersebut digunakan untuk hal yang bermanfaat untuk urusan dunia dan akhirat, maka pada saat ini terpuji. Namun jika sebaliknya, digunakan dalam perbuatan maksiat kepada Allah, maka pada saat inilah tercela.
Jadi, yang dimaksudkan kuat di sini adalah kuatnya iman. Kita dapat saja menyebut seorang itu kuat, maksudnya adalah dia perkasa dengan kejantanannya. Begitu pula kita dapat menyebut kuat dalam masalah iman.
Yang dimaksud dengan kuatnya iman di sini adalah seseorang mampu melaksanakan kewajiban dan dia menyempurnakannya pula dengan amalan sunnah. Sedangkan seorang mukmin yang lemah imannya  kadangkala tidak melaksanakan kewajiban dan enggan meninggalkan yang haram. Orang seperti inilah yang memiliki kekurangan.
Lalu yang dimaksudkan bahwa orang mukmin yang kuat itu lebih baik daripada yang lemah adalah orang mukmin yang kuat imannya lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah imannya.
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa mereka semua (yaitu mukmin yang kuat imannya dan mukmin yang lemah imannya) sama-sama memiliki kebaikan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan demikian agar jangan disalahpahami bahwa mukmin yang lemah imannya tidak memiliki kebaikan sama sekali. Mukmin yang lemah imannya masih tetap memiliki kebaikan dan dia tentu saja lebih baik daripada orang kafir. Namun sekali lagi diingat bahwa mukmin yang kuat imannya tentu saja lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah imannya.[5]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :
 “ Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yanglemah dalam setiap amal kebaikan “ (Diriwayatkan oleh Muslim didalam Kitab al-Qadar, bab. Iman lil-Qadari wal-Idz’aan lahu).
Mukmin yang kuat -Lihat didalam Syar Shahih Muslim karya an-Nawawi 13 / 64, 16 / 215- :
Yang dimaksud dengan kuat adalah kehendak jiwa yang kuat dan kesediaan dalam setiap perkara-perkara akhirat,  dengan demikian  seseorang yang memiliki sifat ini akan lebih gagah berani dalam menghadapi musuh dan bergegas disaat keluar dan berangkat untuk menghadapinya. Dan juga mempunyai ‘azimah yang kuat dalam Amar Makruf Nahi Mungkar, dan bersabar dalam setiap gangguan dari setiap amalan itu, dan mampu untuk memikul segala kesulitan dalam pencapaian kepada Dzat Allah ta’ala,lebih bersungguh-sungguh dalam pengerjaan ibadah shalat, puasa, dzikir, dan ibadah-ibadah lainnya, dan lebih bersemangat dalam pencapaiannya dan penjagaannyadan lain sebagainya.
Kekuatan juga dimaksudkan disini adalah kekuatan fisik dan persiapan yang matang sebelumpeperangan dengan mempersiapkan segala macam senjata yang dipergunakan dalam peperangan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. Dan kekuatan  inilah yang seharusnya dipersiapkan oleh kaum muslimin baik secara individu perorangan ataukah secara berkelompok dan negara, sebagai bentuk manifestasi perintah Allah ta’ala :
 “ Dan kalian persiapkanlah segala kekuatan yang kalian sanggup untuk menghadapi mereka “ (Surah al-Anfal : 60).
Dan itu berlaku dalam amal jihad fi sabilillah, meninggikan kalimat Allah,memerangi mush-musuh mereka, membebaskan tanah kediaman mereka serta membela kebenaran dan kaum yang tertindas.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah memberikan sebuah khuthbah pada suatu hari diatas minbar, beliau bersabda :
“ Kalian persiapkanlah segala kekuatan kalian untuk menghadapi mereka., dan ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah kemampuan untuk melontarkan anak panah, ketahuilah kekuatan itu adalah kemampuan untuk melontarkan anak panah, ketahuilah kekuatan itu adalah kemampuan melontarkan anak panah “ (Diriwayatkan oleh Muslim didalam Kitab al-Imarah, bab. Fadhlu ar-Ramyu wal-Hatstsu ‘alaihi).
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  memberikan penafsiran dari makna kekuatan dengan kemampuan untuk melontarkan anak panah. Dan pada hadits ini menunjukkan keutamaan melontarkan anak panah dan perlombaan memanah dan perlunya fokus terhadap kemahiran mempergunakannya dengan niat Jihad fi sabilillah ta’ala.  Demikian juga dengan pelatihan-pelatihan kemiliteran dan penggunaan ragam bentuk senjata, perlombaan menunggang kuda dan lain sebagainya. Dan maksud dari semuanya itu tiada lain untuk melatih kesiapan berperang dan latihan serta pengupayaan segala penunjang peperangan dan melatih kesiapan fisik.
          Persiapan kekuatan mental dan fisik ini juga dimaksudkan untuk mengentarkan hati musuh-musuh Islam, kaum munafik, orang-oang kafir dan para penghianat, sebagaimana dalam firman Allah ta’ala :
          “ Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang ( yang dengan persiapan itu ) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkanpada jalan Allah niscayaakan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya ( dirugikan ) “ (Surah al-Anfal : 60).
          Oleh karena itu wajib bagi kaum muslimin  untuk senantiasa mempersiapkan kekuatan ini dan dengan semakin menyempurnakannya sehingga akan menggentarkan kekuatan kebatilan dan musuh-musuh Allah dan menanamkan dalam hati sanubari mereka rasa takut, yang akan membuat mereka segan untuk menyerang negeri-negeri Islam  dan tidak terbersit dalam pemikiran mereka untuk berdiri menghadapi cahaya Islam yang menyebar memberi pembebasan bagi setiap kaum manusia di muka bumi dan untuk menegaskan Uluhiyah Allah semata dan merobohkan segala bentuk uluhiyah terhadap hamba-Nya.  Jadi kaum muslimin mereka diperintahkan untuk menjadi orang-orang yang kuat, dan agar mereka memobilisir segala aspek yang akan memberi kekuatan bagi mereka, agar mereka disegani dimuka bumi dan agar kalimat Allah ditinggikan dan kalimat orang-orang kafir menjadi rendah terhinakan, dan pada akhirnya Agama ini hanyalah bagi Allah.[6]







BAB III
 PENUTUP
Pernahkah engkau melihat orang lain melakukan suatu kemaksiatan, dan geram ingin menghukum seberat-beratnya
Jika ya, cobalah engkau pikirkan lagi kalimat ini :
Jika engkau terjatuh pada kemaksiatan yang sama dengan orang itu, apakah engkau akan menghukum dirimu sendiri, sebagaimana (seberat) engkau ingin menghukum orang lain tersebut
Sesungguhnya, jika hal ini engkau lakukan, maka engkau untuk pertama kalinya, engkau akan dapat menyayangi semua orang, walaupun ia melakukan kemaksiatan.[7]
Kesimpulannya, Allah ta’ala mencintai seorang mukmin yang memiliki kekuatan mentalitas dan fisik, yang membuatnya kuat dalam penyebaran Agama-Nya dan dalam jihad fisabilillah, dan ini lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah. Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  : “ Dan masing-masingnya mempuyai kebaikan “, maknanya bahwa masing-masing mukmin baik yang kuat maupun lemah memiliki kebaikan, karena keduanya konyungtif pada perihal keimanan,  pada sisi pelaksanaan ibadah-ibadah si mukmin lemah .






DAFTAR PUSTAKA
Ja’far Abidin Dan  Fuady, M. Noor . Hadits Nabawi. CV. MT Furqan. Bajarmasin:2006
Ash-Shan’ani Muhammad bin Ismail Al-Amir, Subulus Salam.Darus Sunnah  Press. Jakarta:2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar