Sabtu, 07 Januari 2012

MENYANTUNI JANDA DAN ORAN MISKIN


BAB II
PEMBAHASAN
MENYANTUNI JANDA DAN ORAN MISKIN

حَدَّ ثَنَا يَحْيَ بْن  قَزَ عَةَ حَد ثَناَ ماَ لِكُ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِيْ الغَيْثِ عَنْ أَبِيْ هرَيْرَةَ قَا لَ النَّبِيُّ صَلىَ ا للهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ السَّا عِي عَلىَ الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كاَ الْمُجَاهدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ أوْ القَائِمِ اللَّييْلَ الصَّا ئِمَ النَّهاَ رَ( أخر جه البخا رى فى كتا النفقات باب فضل النفقة على الأهل)
Artinya: Abu Huairah berkata:Nabi SAW bersabda:”menyantuni jandadan orang miskin laksana perjuangan fisablillahh atau orang ang shalat sepanjang malam atau orang yang berpuasa sepanjang hari .HR-Al bukhari dalam kitab nafaqah babkeutamaan memberi nafaqah pada keluarga[1]
Abu Hurairah pernah meriwtkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

“Orang yang bekerja untuk menghudupi waninta –wanita janda dan orang miskin seperti seorang mujahid di jalan Allah”[2]

A.    Menyantuni   Janda

Seorang janda akan bersyukur jika ternyata ada lelaki shalih yang mau menjadikannya sebagai istri. Seperti Khadijah RA, setelah bercerai dengan suaminya akhirnya dinikahi Rasulullah SAW. Atau Ummu Habibah yang memilih bercerai dengan Ubaidullah bin Jahsy karena suaminya tersebut telah murtad dari agama Islam, selanjutnya dia dinikahi oleh Rasulullah Saw. Atau Asma’ binti Umais setelah suaminya, Ja’far At Thayyar syahid lantas dinikahi oleh Abu Bakar As Shidiq. Dan masih banyak kisah lain tentang para janda yang dinikahi oleh para sahabat dan tabi’in. Namun tidak jarang p yang menghampirinya. Dalam kondisi seperti itu bersabar adalah pilihan utama dengan tetap menjaga kehormatan diri. Sehingga meski hidup tanpa suami ia mampu menjadi wanita shalihah, guru bagi anak-anaknya dan pemimpin bagi kaum hawa yang ada di sekitarnya.
Janda sebenarnya  hanyalah status semata, sama halnya dengan status ‘menikah’, ‘tidak menikah’, ‘duda’, ‘perjaka’, ‘perawan’ dan predikat lainnya. Dalam Islam para janda dihormati dan termasuk yang layak mendapat bantuan. Tanggung jawab nafkah dikembalikan kepada orang tua mereka setelah  suaminya menceraikannya atau meninggal dunia,
Seperti Hafshah setelah ditinggal syahid suaminya di perang Uhud maka ia
kembali ke orang tuanya yaitu Umar bin Khattab. Atau Ruqayyah dan Ummi Kultsum setelah bercerai dengan suaminya maka Rasulullah yang bertanggungjawab terhadap keduanya yang akhirnya menikahkannya dengan Utsman bin Affan. Sedangkan jika orangtuanya tidak mampu maka yang bertanggungjawab terhadap mereka adalah pemerintah, baik dengan mencarikan suami bagi mereka atau memberikan santunan dari baitulmal. Ketika Fathimah binti Qais ditalak tiga oleh suaminya maka Rasulullah memberikan perlindungan dan memberi tempat kepadanya untuk menghabiskan masa iddah di rumah Ibnu Ummi Maktum, lalu menikahkannya dengan Usamah bin Zaid setelah berlalu masa iddahnya. Begitu pula ketika Ummu Aiman dicerai suaminya karena tidak rela dengan keislamannya,
Rasulullah memberikan motivasi kepada para sahabat: “Barangsiapa yang ingin masuk jannah, nikahilah Ummu Aiman.” Selain itu Rasulullah SAW juga menghasung kepada umatnya dengan menjanjikan pahala yang besar bagi mereka yang memberikan perhatian kepada para janda. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:
السَّاعِي عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِيْنِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ أَوْ كَالَّذِي يَصُوْمُ النَّهَارَ وَيَقُوْمُ اللَّيْلَ
“Orang yang membantu para janda dan orang miskin adalah seperti orang yang  berjihad di jalan Allah atau seperti orang yang selalu mengerjakan shaum di siang hari dan shalat di malam hari.” (Muttafaq ‘Alaih)

Keterangan dari hadits tersebut bahwa barangsiapa yang belum mampu berjihad di jalan Allah, atau belum mampu untuk konsisten melaksanakan qiyamul lail di setiap malam dan shaum di siang hari hendaknya mengamalkan hadits ini yaitu dengan cara menyantuni para janda dan orang-orang miskin agar kelak dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka dan mendapatkan derajat seperti para pejuang, meski ia belum pernah mengerjakan amalan-amalan mereka. Apalagi membantu janda yang ditinggal mati suaminya, bersamanya anak-anak yang belum dewasa dan mereka dalam kondisi miskin. Berarti ia akan mendapatkan beberapa fadhilah, fadhilah membantu janda yang tentu amat bersedih setelah ditinggal suaminya yang selama ini menjadi penopang hidupnya, fadhilah menolong orang miskin, dan fadhilah mengasuh anak yatim yang telah ditinggalkan bapaknya yang selama ini menafkahinya. Rasullah pernah menyebutkan: “Saya dan orang yang menanggung anak yatim berada di surga seperti begini,” beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkan sedikit antara kedua jari tersebut. (HR. Bukhari).[3]
B.    Menyantuni orang miskin
|M÷ƒuäur& Ï%©!$# Ü>Éjs3ムÉúïÏe$!$$Î/ ÇÊÈ   šÏ9ºxsù Ï%©!$# íßtƒ zOŠÏKuŠø9$# ÇËÈ   Ÿwur Ùçts 4n?tã ÏQ$yèsÛ ÈûüÅ3ó¡ÏJø9$# ÇÌÈ 
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Al-Maa’uun [107]:1-3)

Berdasarkan Hadist Nabi, siapa sih yang termasuk dalam golongan orang miskin?Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menulis yang artinya sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. Bersabda, ”Orang miskin bukanlah orang yang ditolak karena meminta sebutir atau dua butir korma, bukan pula ditolak karena meminta satu atau dua suap makanan. Tetapi, orang miskin adalah orang yang menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta.”
(Muttafaq ’alaih).

Dalam sebuah riwayat dalam ash-Shahiihain dinyatakan, ”Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling (meminta-minta) kepada manusia, lalu ditolak untuk mendapat satu atau dua suap makanan, satu atau dua butir korma. Tetapi, orang miskin adalah yang kebutuhannya tidak tercukupi, keadaannya tidak diketahui sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya dan tidak pula pergi meminta-minta kepada manusia.”
Adapun amalannya bagi kita yang menyantuni orang miskin adalah sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. Bersabda, ”Orang yang menyantuni kaum janda dan orang-orang miskin adalah setara dengan orang yang berjihad di jalan Allah.” Aku mengira, Rasulullah saw. Juga bersabda, ”Dia juga seperti orang yang bertahajjud yang tidak merasa lelah dan seperti orang yang berpuasa yang tidak pernah berbuka.” (Muttafaq ’alaih) [4]
Orang  miskin adalah orang yang sangat membutuhkan dan orang kaya orang yang mampu memenuhi kebutuhan si miskin, orang kaya memperoleh keutungan .jika orang kaya berprinsip mencari kekayaan dari kesulitan orang miskin ,maka slogan sosial yang berbunyi;’’Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin akan menjadi kenytaaan .Sistem ekonomi seperti ini bisa melukai semangat islam yang leuh mengutamakan dimensi ibadah ketimbang di mensi bisnis yang  didalam berintegrasi sesama muslim .
Allah tidak suka apabila kekayaan itu kebutuhan  di sekelompok orang terentu .Pemerataan ekonomi merupakan ajaran yang tidak dapat di pisahkan dari ajaran ibadah .Itulah sebab nya Allah memerintahkan supaya harta yang di peroleh dari peperangan itu di bagikan kepada orag miskin , baik   ia ikut berperang atau tidak.Tujuan nya adalah supaya kekayaan itubtidak beredar pada orang-orang tertentu saja (QS 59;7 ).
Uraian diatas semakin memperjela komitmen islam atas kebesamaan yang di wujudkan dalam bentuk kebersamaan yang di wujudkan dalam benuk kepedulian dan kesetiakwanan sosial antarayang kaya dan yang miskin ,Kemudian jika di pahami isyarat-isyarat Al-Quran dan snnah Rasul Nya ,setidak nya ada 3 bentuk kepedulian yang dapat diaplikasikan terhadap merika,yaitu;
1.      Membantu merika dalam memenuhi kebutuhan pokok yang bersifat materi,seperti kebutuhan terhdap makanan ,pakaian ,dan tempat tinggal secara wajar . ini dapat di lakukan melalui pemberian zakat ,sedekah ,infak,hibah,dan lain-lain Allah befirman
Ÿwur Ùçts 4n?tã ÏQ$yèsÛ ÈûüÅ3ó¡ÏJø9$# ÇÌÈ  
Artinya: (orang yang mendustakan agama itu ) orang yang tida menganjurkan orang lain memberi mkan oang miskin.” (QS.107;3)

Maksud nya ,seseorag yang mengaku mukmin etapi ia tidak mau mengajak orang lain supaya membantu me,beri makan orang miskin di golongkan kepada pendusta agama ,Dalam arti lain ,belum sempurna kehidupan beragama seseorang jika belum mau membantu membantu memberi makanan  saudarana yang miskin .
Semua manusia di lahirkan ke alam dunia ini dalam keadaan miskin dan tidak membawa harta walaupaun hana sedikit .Kekuatan fisik dan semangat yang di beri Allah itulah yang membuat manusia itu berbeda tingakat ekonomi nya .Orang yang kuat dan memiliki semangat bekerja dan memperoleh rizki melebhi rizki yang di dapat kan oleh oran yang lemah fisik dan semangat nya .
2.      Tidak membani orang miskin dengan berbagai kewjiban seperti yang di berlakukan kepada orang yang tidak mampu ,seperti beban pajak ,retribusi ,dana sosialyang termasuk pembayaran uang. Kebijakan seperti itu adalah cerminan sikapmental mukmin yang terbuji      
Dalam  hal l ini Allah mengajarkan kepada setiap orang supaya menunda pembayaran utang orang miskin sampai ia memiliki kemampua  pembayar  nya ,seperti di sebut pada ayat beriku
bÎ)ur šc%x. rèŒ ;ouŽô£ãã îotÏàoYsù 4n<Î) ;ouŽy£÷tB 4 br&ur (#qè%£|Ás? ׎öyz óOà6©9 ( bÎ) óOçFZä. šcqßJn=÷ès? ÇËÑÉÈ  
 “Dan jika orang (orang-orang berhuang itu)dalam kesulitan makan berilah tangguh asampai ianberkelapangan .Dan menyedekahkan ( sebagian atau semua utang )i  ,  lebih baik bagimu jika kamu mengetahui .’’(QS.2;280)

Lebih terpuji  lagi, bila seseorng yang mempiutangkan itu membibaskan nya dari beban utang atau mengurangi  dari jumlah utang yang wajib di bayarnya .Jika hal itu tidak mungkin ,maka disini lah perlu di pertolongan terakhir dengan menunda pembayara nya sampai ia mampu .Hal itu bukan semata bertujuan untuk mempermudah pembayaran utang ,tetepi dengan cara itu di harapkan ia menyadari atas kelemahan dirinya sekaligus melahirkan motivasi merubah diri menjadi lebih baik dan tiak selalu beban orang lain .
3.      Membantu  memberi semangat atau lapangan pekerjaan kepada merika yang miskin .Hal ini menjadi salah satu upaya melepaskan merika kesulitan yang merika alami di dunia dan akhirat .
Ada tiga penyebab  mengapa seseorang menjadi miskin  yaitu :
·         Tidak memiliki pekerjaan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pokok  hidup nya.
·         Tidak ada semangat (malas)bekerja sehingga tidak mampu memanfaatkan lapangan kerja yang tersedia.
·         Tidak adakemampuan bekerja karena caca pisik. 
Penyebab kemiskinan pertama dapat dapat di bantu dengan  memperbaiki  usaha nya atau  membantu nya dengan modal usaha termasuk memberi  keterampilan berusaha
Dengan demikian di harapkan ia bisa bekerja lebih baik atau mencari  lapangan kerja sendiri .jika ia malas bekerja dapat di bantu dengan memberi nasihat secara kesinambungan sampai iamenyadari  bahwa masad depan yang akan di tempuh masih panjang dan tidak mungkin dapat di lalui dengan sikap pemalas seperti selama ini terjadi .Sedangkan kepada merieka yang miskin karena tidak mampu bekerja di sebabkan cacat pisik,dapat di bantu dengan menyalurkan zakat ,sedekah atau infak.Semua ini telah diajarkan oleh Allah dan Rasul –Nya kepada orang yang beriman.[5]


C.    Analisis
Menurut  pendapat saya tentang mnyantuni janda dan orang miskin adalah kewajiban kita sebagai sesama muslim untnk saling menyantuni dan mengasihi sesama muslim apa bila  mereka sedang mengalami  kesusahan maka harus  menolong mereka dan mengasihi mereka ,dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:
السَّاعِي عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِيْنِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ أَوْ كَالَّذِي يَصُوْمُ النَّهَارَ وَيَقُوْمُ اللَّيْلَ
“Orang yang membantu para janda dan orang miskin adalah seperti orang yang  berjihad di jalan Allah atau seperti orang yang selalu mengerjakan shaum di siang hari dan shalat di malam hari.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dalam sebuah hadits tersebut jelas bahwa menyantuni janda dan orang miskin seperti oang yang berjihad di jaln Allah atau seperti orang yg selalu mngerjakan shaum di siang hari dan shalat di malm hari.
 
BAB III
PENUTUP


SIMPULAN
Janda sebenarnya  hanyalah status semata, sama halnya dengan status ‘menikah’, ‘tidak menikah’, ‘duda’, ‘perjaka’, ‘perawan’ dan predikat lainnya. Dalam Islam para janda dihormati dan termasuk yang layak mendapat bantuan. Tanggung jawab nafkah dikembalikan kepada orang tua mereka setelah suaminya menceraikannya atau meninggal dunia,
Seorang janda akan bersyukur jika ternyata ada lelaki shalih yang mau menjadikannya sebagai istri. Seperti Khadijah RA, setelah bercerai dengan suaminya akhirnya dinikahi Rasulullah SAW. Atau Ummu Habibah yang memilih bercerai dengan Ubaidullah bin Jahsy karena suaminya tersebut telah murtad dari agama Islam, selanjutnya dia dinikahi oleh Rasulullah Saw
Orang  miskin adalah orang yang sangat membutuhkan dan orang kaya orang yang mampu memenuhi kebutuhan si miskin, orang kaya memperoleh keutungan .jika orang kaya berprinsip mencari kekayaan dari kesulitan orang miskin ,maka slogan sosial yang berbunyi;’’Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin akan menjadi kenytaaan
Ada tiga penyebab  mengapa seseorang menjadi miskin  yaitu ;
·         Tidak memiliki pekerjaan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pokok  hidup nya.
·         Tidak ada semangat (malas)bekerja sehingga tidak mampu memanfaatkan lapangan kerja yang tersedia.
·         Tidak adakemampuan bekerja karena caca pisik. 
Penyebab kemiskinan pertama dapat dapat di bantu dengan  memperbaiki  usaha nya atau  membantu nya dengan modal usaha termasuk memberi  keterampilan berusaha.


DAFTAR  PUSTAKA

Al-anshar amin 1000 jalan ke surga(surakarta ziyat book 2008)
Isipravmudia.wordpress.com/2008/05/02/menyantuni-orang-miskin/
Ja,ar Abidin  hadits nabawi (banjarmasin CV MT 2006 )
Ritonga rahman akhlak (surabaya amelia 2005)


[1] Abidin ja,far hadits nabawi (banjarmasin CV MT 2006 )HAL 91
[2]Amin  al-anshar  1000 jalan ke surga(surakarta ziyat book 2008)
[4] visipramudia.wordpress.com/2008/05/02/menyantuni-orang-miskin/
[5]Rahmman  ritonga  akhlak (surabaya amelia 2005)hal 149-154

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar